Rabu, 28 September 2011

Renungan 11 September 2011


HIDUP UNTUK TUHAN

 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. (Roma 14:8)


Suatu hari, ada seorang yang diberi kesempatan bertemu kepada Tuhan. Tuhan berkata, "Jadi engkau ingin bercakap dengan Aku?" Jawab orang itu, "Jika Engkau mempunyai waktu." Tuhan pun tersenyum. "Waktu-Ku adalah abadi."

Lanjut perkataan Tuhan, "apa yang ingin kau tanyakan kepada-Ku?" Orang itu berpikir sejenak lalu bertanya, "apa yang membuat Tuhan heran dan geli saat melihat kehidupan manusia?"
Tuhan menjawab, "Manusia lahir, tetapi segera bosan dan tidak sabar dengan masa kecil mereka sendiri. Mereka ingin berkembang dan dianggap dewasa. Tetapi saat mereka telah dewasa malah bersikap anak-anak lagi."

"Manusia itu selalu kuatir akan masa depan. Lalu lupa akan hidupnya yang dijalani sekarang. Ia tidak lagi mensyukuri hidupnya saat ini. Lalu tidak jelas lagi, di mana kehidupannya. Hidup sekarang tidak, hidup bagi masa depan pun tidak."

"Manusia terkadang bekerja terlalu keras. Mereka hidup untuk mengumpulkan uang, hingga sering tidak lagi merawat kesehatannya. Mereka kehilangan kesehatan pada masa mudanya. Kemudian mereka akan kehabisan lagi uangnya untuk memulihkan kesehatannya."

Lalu Tuhan berkata begitu pelan, "akhirnya manusia menjalani hidupnya menjadi begitu kabur. Mereka hidup seakan tidak pernah mati, tetapi mati seakan tidak pernah merasakan hidup."
Orang itu terdiam sejenak. Tertunduk malu. Tuhan menggandeng tangannya dengan erat. "Tuhan, sebagai Bapa, apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada manusia?" Tuhan menjawab lembut, "Bahwa Aku selalu ada bersama mereka!"

Percakapan yang begitu menyentuh. Betapa hidup menjadi tidak berarti bila kita salah orientasi. Kita salah menentukan tujuan. Betapa pun luhurnya keinginan kita, bahkan betapa pun mulianya harapan kita, tanpa Tuhan hidup seringkali menjadi tragedi. Sebab manusia tidak mungkin hidup tanpa Allah.
Marilah belajar alasan dasar –bahkan tidak ada pilihan- bahwa hidup untuk Tuhan :

 
Pertama, hidup adalah milik Tuhan
Hidup memang diberikan kepada kita. Kita memang dianugerahi kehidupan. Tetapi kita tidak memiliki kehidupan. Kita tidak berkuasa atas kehidupan kita sendiri. Kita tidak bisa memilih kapan kita akan dilahirkan. Demikian pula kita tidak dapat menentukan kapan kita akan menerima kematian. Hidup adalah milik Tuhan. Jadi kita kita hidup adalah suatu kesempatan sepanjang hidup untuk mengenal Tuhan.

Kedua, hidup adalah rancangan Tuhan
Tuhan yang memberi hidup, Tuhan juga yang memiliki rancangan kehidupan bagi diri kita. Jika hidup tidak bagi Tuhan, berarti kita hidup bagi rancangan siapa? Ketika kita hidup dengan rancangan kita sendiri, sebenarnya kita sudah salah jalan. Bayangkan, bila telah diciptakan sebuah raket badminton tetapi malah untuk 'gebuk' kasur. Aneh, bukan?! Demikian pula bila kita menjalani hidup tidak sesuai dengan kehendak pencipta kita. Hidup menjadi salah bahkan membuat banyak masalah.

Ketiga, hidup menjadi penuh dalam Tuhan
Karena hidup adalah milik Tuhan. Maka hidup akan penuh bila dijalani bersama Tuhan. Hidup terasa utuh jika dinikmati bersama Tuhan. Raket akan menjadi tepat bila di tangan atlet. Di tangan koki, boleh jadi menjadi barang tidak berguna. Demikian hidup kita terasa sempurna di tangan Sang Pencipta. Hidup kita akan menjadi berharga karena di tangan yang tepat. Raket itu akan mendatangkan banyak medali. Demikian hidup penuh di dalam Tuhan akan mendatangkan banyak berkat bagi orang lain.
Akhirnya, jangan lagi hidup kita membuat Tuhan heran dan geli. Karena kesalahan pilihan dan tujuan hidup kita sendiri. Tuhan selalu ada bersama dengan kita. Hiduplah untuk Tuhan! Sungguh sebuah keputusan yang tidak akan pernah mengecewakan. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar